Selasa, 15 Desember 2009

CERPEN

KISAH NARA
Namaku Nara, lengkapnya Inara Vianti. Tahun depan umurku enam tahun. Aku adalah cewek yang suka mencoba hal-hal yang baru, yang bisa membawa kebaikan dalam diriku. Satu hal lagi aku sangat menyayangi kedua orang tuaku.
Aku ditinggal oleh oleh ibuku saat aku masih bayi. Ibuku meninggal karena penyakit bronkithis. Aku sangat menyayanginya, namun aku sama sekali tidak pernah ingat bagaimana wajah ibuku, kecuali hanya selembar foto hitam putih yang berbingkai dan hanya foto hitam putih itulah yang selama ini mengingatkanku pada ibuku. Mungkin ini memang sudah digariskan oleh Tuhan untukku. Namun aku tetap ingin menjadi anak yang tabah dalam menghadapi segala cobaan.
Tak lama kemudian Tuhan menjemput ayahku, orang kedua yang kusayangi setelah ibuku. Saat itu aku masih berumur 5 tahun dan sedang berada di bangku TK Dharmawanita. Ayahku meninggal karena syaraf-syaraf dalam otaknya telah rusak fatal, akibat kecelakaan yang telah dialaminya semasa SMA dulu. Aku yang saat itu masih belum tahu apa-apa tentang kehidupan, mencoba menerima kenyataan yang telah terjadi padaku. Saat itu aku melihat tubuh ayhku yang tergeletak di tengah-tengah kerumunan orang yang bertahlil dengan dilumuri kain kafan putih bersih. Aku duduk di atas pangkuan nenenkku sambil menangis terisak-isak. Mungin orang-orang yang bertakziyah ke rumahku berfikiran bahwa kasihan sekali anak kecil sepertiku ini yang masih bau bawang telah ditinggal kedua orang tuanya. Sebenarnya aku benci sekali kalau ada orang yang mengasihaniku, karena aku selalu merasa mampu menghadapinya. Menghadapi terjangan badai yang berada di depan mataku.
Walaupun saat itu aku hanya seorang anak kecil berumur lima tahunan, tapi saat itu aku berusaha menahan tangis sambil berdoa dalam hati, agar ayahku ditempatkan di sisi-Nya dan aku diberi ketabahan oleh-Nya. Sampai saat inipun aku berusaha tabah dan pasrah, berdoa, berdoa dan berdoa. Namun kadang hatiku bertanya-tanya kenapa harus aku yang mengalaminya? Sampai saat ini juga aku berusaha dan mencoba menerima takdir yang telah Tuhan berikan padaku serta menjawab pertanyaan itu dengan kata-kata,”Hanya Tuhan yang tahu, Nara dan tUhan itu Maha Adil.”
Sampai suatu hari sahabatku, Ifa berkata,” Nar, kamu nggak boleh patah semangat, walaupun kedua orang tuamu udah nggak ada, tapi mereka akan selalu ada di hatimu.” Sambil merenung sebentar dan menundukkan kepala aku menjawab kata-katanya,” Makasih ya, Fa udah ngasih dukungan.” Ifa memang sahabatku yang paling baik dan yang paling dekat denganku. Kami berdua bersahabat belum lama, karena aku dan Ifa saling kenal, ketika MOS dulu awal masuk kelas X SMA. Kata Ifa aku ini orangnya baik, kadang suka bicara atau bisa dikatain cerewet, tapi kadang juga suka diam menyendiri. Sahabatku Ifa itu memang ngomongnya suka blak-blakan, tapi dia selalu baik sama aku. Akupun bisa ngakuin apa yang sudah Ifa katakan tadi.
Ifa adalah orang yang masuk dalam daftar orang-orang yang aku sayangi. Karena dia selalu menghiburku saat aku susah dan ikut bahagia kalau aku bahagia. Seperti biasanya, kami selalu berangkat sekolah bersama naik motorku. Tapi tiba-tiba saja Ifa menepuk pundakku sambil ngomong sesuatu,”Nar, apa elo nggak pengen punya pacar, kan kalo punya pacar elo nggak bakal kesepian lagi.” “Kata siapa gue kesepian, gue, kan punya nenek, trus nenek, trus paman, bibi dan keponakan-keponakan gue yang masih kecil-kecil itu, lagian elo, kan juga selalu ada buat gue,”celetusku sambil mencibirkan bibir. “Ya, maksud gue tuh supaya elo nggak ngejomblo lagi, lagian elo, kan belom pernah pacaran!,” jawab Ifa. “Fa, yang namanya jodoh itu bakalan dateng sendiri,”sengitku ke Ifa. “Ya udah deh, elo itu emang susah dibilanginnya,” ketus Ifa saking sebelnya sama aku. “Teeenng...teeeENg...teeeng!!!,”tanda bel masuk kelas.
Aku dan Ifa buru-buru masuk kelas dan duduk manis dalam satu bangku. Aku mencoba nginget-nginget apa yang diomongin Ifa tadi. “Fa, emang ada, ya orang yang nggak punya jodoh?,”tanyaku sambil nggoda Ifa. “Hah, elo ngomong apaan sih, kalo soal itu tanya aja sama Tuhan, emang gue biro jodoh?”bales Ifa saking sebelnya sama aku.
“Nah, sekarang kalian keluarkan buku tugas kalian, saya akan memeriksa pekerjaan kaliyan kemarin,”suara Bu Endang, guru super kiler yang kondang di sekolah ini. “Nar, kamu kenapa?,”tanya Ifa. “Bukuku nggak ada, aduuuhhh... gimana nih?!,”jawabku karena kebingungan. “Kok, bisa sih, Nar?,”tanya Ifa ikut panik. “Aku juga nggak tahu, atau jangan-jangan aku lupa nggak bawa!,”sautku saking deg-degan. “Nara, mana PR kamu?,”tanya Bu Endang dengan wajah serem. “Sekarang, kamu keluar, tidak usah ikut jam pelajaran saya!!!,”suara bentakan Bu Endang yang hampir membuat jantungku copot. Aku keluar dari kelas dengan wajah sebel, karena Cuma gara-gara itu aku harus rela nggak ikut jam pelajaran sejarah.
Hari ini emang hari sialku, udah langitnya mendung, matahari aja enggan munculin sinarnya. Memang sih, cuaca hari ini nggak seperti biasanya, malah ketambahan nasib sial yang menimpaku. Tiba-tiba aja ada sesuatu benda yang nyodok punggungku dari belakang,”Aduuuhh, gimana sih, kalau jalan tuh lihat-lihat, dong!,”celetusku kesal. “Sory..sory, aku nggak sengaja, habis tadi aku dikejar-kejar satpam,”kata cowok yang kukatain benda tadi. Hah.. ternyata setelah kulihat badgenya berwarna kuning bertuliskan XI IPA 4. Dalam hatiku aku merasa malu campur takut setengah merinding, karena ternyata cowok itu murid kelas XI. “Eh, nama kamu siapa?,”tanya cowok tadi. “Nara,”kujawab dengan nada tegang. “Aku tahu kamu dihukum, gimana kalo kita ke kantin, aja? “Hah... eh, tunggu dulu!!!,”dia narik tanganku dengan paksa.
Aku dan dia ngobrol panjang lebar, sampai-sampai lupa waktu. Dia itu dikejar-kejar Pak Satpam, karena dia datangnya telat trus masuk tanpa surat izin dari guru piket. Dia juga nanya-nanya banyak tentangku, soal kenapa aku dihukum trus kenapa nggak bawa buku tugas dan banyak banget. Ternyata namanya Ardhan. Kelihatannya sih dia cowok baik-baik, tapi kebanyakan polah. Sampai jam pelajaran Sejarah habis, aku dan Ardhan kembali ke kandang masing-masing.
Ifa yang suka cerewet itu mulai bertanya-tanya padaku hingga tanpa koma mapun titik, soal soal inilah soal itulah. Kujawab aja pertanyaan-pertanyaan Ifa itu dengan nada-nada penuh kesenangan. Lalu setelah Ifa nutup mulut dan berhenti ngomong, aku ajak dia ke kantin untuk beli minuman sekedar untuk melepas dahaga. Lagi-lagi secara nggak sengaja tanpa janjian sekalipun aku ketemu Ardhan di sana. Kami bertiga ngobrol bareng sampai bel masuk kelas bernyanyi-nyanyi. Di akhir obrolan Ardhan bilang padaku kalau dia pengen barengan sama aku pulang sekolah nanti dan tanpa mendapat restu dariku Ifa langsung nrocos jawab iya. Kutanya balik sama Ifa, apa dia nggak apa-apa kalau pulang sendirian. Ifa bilang dia pulangnya naik angkot saja. Malah dia berbisik padaku,”Jangan sia-siakan kesempatan ini!.”
Akhirnya aku dan Ardhan pulang bareng boncengan pakai motornya. Kejadian seperti inipun berlangsung sampai lima hari berturut-turut. Tiap kali pulang Ardhan selalu mampir ke kelasku dan ngajak aku pulang bareng. Suatu hari Ifa bilang padaku kalau Ardhan itu naksir sama aku, tapi aku masih ragu-ragu. “Nar, Ardhan itu cakep lho, masak mau kamu tolak sih?,”tanya Ifa. “Fa, aku rasa Ardhan belum nembak aku atau menyatakan cinta padakau, tapi kamu kok malah nanya kayak gitu?,”jawabku cuek. Lalu tiba-tiba saja Ifa berkata padaku,”Aku itu Cuma pengen kasih kamu semangat, supaya kamu nggak putus asa untuk berjuang demi mendapatkan cinta sejati. Nar, itu Ardhan, kok sama cewek pakai gandengan tangan lagi?.” Aku langsung mengarahkan kedua bola mataku ke arah yang ditunjukkan oleh Ifa. Ternyata memang Ardhan.
Sejak saat itu aku nggak pernah kirim SMS maupun menjawab SMS dari Ardhan. Mungkin cewek itu memang pacar Ardhan dan aku nggak mau dikatakan sebagai cewek yang nggak bener karena terlalu dekat dengan Ardhan. Lagi-lagi aku ketemu Ardhan secara nggak sengaja di kantin sekolah. Secara nggak sengaja telingaku mendengar suara yang datang di dekatku,”Nara...Nar...tunggu!!.”Lalu aku segera lari dan berusaha menghindar darinya, namun dia tetap mengejarku dan aku menjawab perkataannya tadi dengan nada marah,”Ada apa?. “Kamu marah sama aku, mungkin kamu emang udah tahu kalau aku udah punya pacar,”saut Ardhan. Aku juga sudah menduga kalau dia itu pacar kamu, lagian aku nggak papa, kok!,”balasku dengan marah. Kami berduapun terus bertengkar dan diapun terus berbelit-belit. Dia berusaha meyakinkanku dengan mengungkapkan rasa cintanya kepadaku. ”Nar, tunggu sebenarnya a...a...a...aaaku sayang sama kamu, aku cinta sama kam,”ucap Ardhan sambil menarik tanganku berusaha mempertahankanku supaya aku mau mendengarkan penjelasannya. Namun dia tetap tidak mau menjelaskan kepadaku, sehingga dia tidak dapat meyakinkanku hingga akhirnya aku pergi dan melepaskan eratan tangannya dariku.
Aku nggak pernah menyangka kalau dia bakal mengungkapkan perasaannya padaku. Aku sempat shock, tapi aku juga bahagia karena dia bisa mengungkapkan perasaannya padaku. Tapi yang nggak aku mengerti kenapa dia harus terpaksa pacaran sama cewek itu padahal dia bilang dia cinta padaku. Esoknya di sekolah, Ifa langsung nyamperin aku setelah dia makan dari kantin,”Nar, gue denger-denger Ardhan pacaran sama Selly, karena nggak bisa nolak dia. Katanya sih, Si Selly itu punya penyakit kanker otak.” Aku langsung kaget,”Maksud kamu Si Cewek yang kemarin itu!.” “Iya!,”kata Ifa sambil meyakinkan.
Aku mulai berkesimpulan, kenapa Ardhan bilang terpaksa pacaran sama Selly, itu pasti karena Selly punya penyakit kanker otak. Mungkin dia tidak mau memperparah keadaan Selly. Mungkin jika Ardhan menolak cintanya Selly, keadaan Selly akan semakin parah dan shock.
Hubungan Ardhan dan Selly terus berjalan, hingga suatu hari Selly masuk rumah sakit gara-gara penyakit berbahayanya itu. Hingga selama satu minggu Selly koma tergeletak di rumah sakit. Ardhan selalu menemaninya, walaupun sebenarnya dia tidak mencintai Selly. Lalu aku dan Ifa ikut menjenguk Selly yang terbaring tak berdaya di rumah sakit. “Nara, ini semua gara-gara aku, dia shock,”kata Ardhan sambil menangis berlinangan air mata. “Maksudmu apa?,”jawabku karena tak tahu apa-apa. “Dia adalah saudara tiriku sendiri, selama ini kami berpisah. Orang tua kami bercerai dan ibuku memutuskan untuk mengasuhku sendirian sedangkan ayahku yang selama ini tak kuketahui dia adalah ayah Selly juga,”kata Ardhan sambil bercerita panjang lebar. Aku dan Ifa sempat kaget, atas penjelasan Ardhan. Ardhan mengetahui hal itu dari foto ibu Ardhan yang diketahui oleh ayah Selly.
Tiba-tiba saja setelah Ardahan bercerita panjang lebar tentang dia dan Selly, tangan Ardhan yang menggenggam jari-jari lembut Selly berasa sedikit bergerak. Ternyata gerakan itu merupakan gerakan tanda kesadaran Selly yang telah lama koma. Ardhan langsung memanggil dokter dan dokterpun menyatakan Selly sadar, namun dokter tidak bisa memprediksikan, apakah Selly akan bisa pulih kembali atau tidak. Selly hanya terbaring lemas, ketika dokter memeriksanya. Ardhan sangat khawatir dengan keadaan adik tirinya itu. Akupun juga ikut sedih melihat Selly yang terbaring tak berdaya itu. “Ardhan, kamu adalah kakakku, kakak yang selama ini aku anggap sebagai pacar dan aku banggakan. Maafkan aku selama ini karena selalu merepotkanmu. Aku sadar sebenarnya selama ini kamu nggak pernah sayang sama aku, kan?,”ucap Selly karena saking meyesalnya. “Selly, aku sayang sama kamu, ku sayang sama kamu karena kamu adalah adikku,”ujar Ardhan sambil meyakinkannya. “Sudahlah Sell, kamu istirahat aja dulu, kamu harus sembuh,”tambah Ardhan.
Ketika aku mau pulang Ardhan mencegahku dan Ardhan menyatakan rasa cintanya kepadaku untuk yang kedua kalinya. Aku merasa ungkapannya yang kali ini adalah yang benar-benar dari hati yang paling dalam. Aku merasa yakin padanya dan akupun menerimanya sebagai kekasihku. Sellypun ikut senang. “Selly kami sudah memenuhi permintaanmu untuk saling mencintai. Sekarang kami minta agar kamu harus bertahan dan sembuh, setelah itu kita akan pergi berlibur bersama-sama,”ujar Ardhan dengan penuh ketulusan. “Aku janji setelah aku sembuh nanti aku akan ikut kalian berlibur. Satu lagi aku senang sekali melihat kalian berdua bahagia seperti ini,”ungkap Selly yang hanya terbaring lemas itu.
Malampun tiba, aku dan Ifa yang dari tadi siang berada di rumah sakit, akhirnya berpamitan pulang juga. Sebenarnya Ardhan ingin mengantar aku dan Ifa pulang, tapi akulebih memilih pulang sendiri dan meminta Ardhan menemani Selly. Ardhanpun mengiyakan permintaanku.
Ardhanpun bermalam di rumah sakit, karena menemani adik tirinya itu. Tiba-tiba saja di tengah malam Selly terbangun dari tidurnya, karena kepalanya terasa sakit. Dia tidak berani membangunkan kakaknya, karena merasa kasihan pada kakaknya yang tulus menemaninya selama ia sakit. Shelly tak kuat lagi dengan rasa sakit di kepalanya itu. Namun Tuhan berkehendak lain, malam itu juga Selly berpulang untuk selamanya ke Rahmatullah.
Ketika matahari pagi menerobos lewat jendela, Ardhanpun terbangun dan dia berusaha membangunkan Selly. Namun usahanya membangunkan Selly tak berhasil. Dia langsung berlari dan memanggil salah satu suster untuk memeriksa keadaan Selly. Suster menyatakan Selly telah meninggal. matanya langsung berlingan air mata dan merasa menyesal atas kepergian adiknya itu. Secara tidak sengaja dia melihat secarik kertas di atas meja dan membaca isi surat itu.
To: Nara & Ardhan
Maafkan aku, karena aku tidak bisa memenuhi permintaan kalian untuk bertahan hidup. Maafkan aku juga, karena tidak bisa menepati janjiku untuk pergi berlibur bersama kalian. Kak, jaga Nara baik-baik! Maafkan aku juga, Nara!

Selly
Aku dan Ardhan menjalani hubungan ini dengan baik. Aku merasa senang karena kami berdua bisa bersatu.

Rabu, 22 Oktober 2008

Nie Web_q

Ini adalah Webq sndiri